
MAKALAH
INSTRUMENT PENELITIAN
Diajukan untuk
Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Metodologi Penelitian
Oleh:
Zaharuddin. M
NIM: 1920090021
Dosen Pengampu:
Prof. Dr. H. Syafruddin Nurdin, M.Pd
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM
PROGRAM DOKTORAL PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
IMAM BONJOL PADANG
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat inayah serta
hidayah-Nya. Sehingga saya dapat menyelesaikan tugas ini. Sholawat dan salam
semoga senantiasa tercurahkan kepada baginda Rosululloh Sallallahu ‘alaihi
wasallam semoga kita mendapatkan syafaat di hari akhir nanti. Amin.
Makalah ini di buat sebagai tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian Program Studi
Pendidikan Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol
Padang, dengan Dosen Pembimbing Prof. Dr. H. Syafruddin Nurdin, M.Pd.
Saya sadar bahwa dalam penyusunan makalah
ini masih jauh sekali dari sempurna. Karenanya, kritik dan saran anda
sangat saya butuhkan demi memperbaiki di pembuatan makalah mendatang.
Saya berharap semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi diri saya sendiri dan bagi pembaca pada umumnya serta
menjadi sebuh kajian yang menarik tentang Instrumen
Penelitian.
Padang, 2020
Penulis
ZAHARUDDIN
M.
DAFTAR ISI
COVER
KATA PENGANTAR …………………………………………...………………
i
DAFTAR ISI …………………………………………………………………….
ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang …………………………………………………………. 1
B.
Rumusan Masalah
……………………………………………………… 2
C. Tujuan
Penulisan ………………………………………………………. 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Instrumen Penelitian ..………….………………………… 3
B.
Macam-Macam
Instrumen Penelitian ………………………………... 5
C.
Langkah-Langkah Penyusunan
Instrumen Penelitian ………………. 9
D. Teknik Pengujian
Validitas Dan Reliabiltasnya ……………………. 11
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
……………………………………………………………. 13
B. Saran
…………………………………………………………………… 14
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Penelitian
dapat diartikan sebagai suatu proses penyelidikan secara sistematis yang
ditujukan pada penyediaan informasi untuk menyelesaikan masalah.
Sebagai suatu kegiatan sistematis penelitian harus dilakukan dengan metode
tertentu yang dikenal dengan istilah metode penelitin,yakni suatu cara ilmiah
untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara
ilmiah ini harus didasari ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris, dan
sistematis.
Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan
oleh peneliti untuk pengumpulan data. Teknik dalam menunjuk suatu kata yang
abstrak dan tidak diwujudkan dalam benda, tetapi hanya dapat dilihat
penggunaannya melalui: angket, wawancara, pengamatan, ujian (tes), dokumentasi,
dan lain-lain. Peneliti dapat menggunakan salah satu atau gabungan teknik
tergantung dari masalah yang dihadapi atau yang diteliti.
Dalam penelitian ilmiah, agar data yang kita
kumpulkan menjadi valid, maka kita harus mengetahui bagaimana cara-cara
pengumpulan data dalam penelitian itu, sehingga data yang kita peroleh dapat
menjadi pendukung terhadap kebenaran suatu konsep tertentu.
Dalam
melaksanakan kegiatan penelitian, keberadaan instrumen penelitian merupakan
bagian yang sangat integral dan termasuk dalam komponen metodelogi penelitian
karena instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk
mengumpulkan, memeriksa, menyelidiki suatu masalah yang sedang diteliti.
Suatu
intrumen yang baik tentu harus memiliki validitas dan realibitas yang baik.
Untuk memperoleh instrument yang baik tentu selain harus diujicobakan, dihitung
validitas dan realibiltasnya juga harus dibuat sesuai kaidah-kaidah penyusunan
instrument.
Berkaiatan
dengan hal tersebut, pada pembahasan ini akan diuraikan berbagai hal terkait
dengan instrument penelitian yang pembahasannya diawali dengan pengertian
instrumen penelitian, lagkah-langkah penyusunan, teknik pengujian validitas dan
reliabiltasnya, teknik pengumpulan data, dan analisis data.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah penulis
ungkapkan di atas, maka dalam makalah ini penulis akan membahas beberapa
persoalan yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan dalam dunia
pendidikan di Indonesia, di antaranya sebagai berikut:
1.
Apa Pengertian
Instrument Penelitian ?
2.
Apa Saja
Macam-Macam Instrument Penelitian ?
3.
Bagaimana
Langkah-Langkah Penyusunan Instrumen ?
4.
Bagaimana
Teknik Pengujian Validitas Dan Reliabiltasnya ?
C.
Tujuan
Penulisan
Makalah ini diharapkan dapat menjawab semua
persoalan di atas yaitu menjelaskan hal-hal yang terkait dengan instrument
penelitian serta langkah-langkah dalam menyusun instrumen dan dapat menjadi
bahan untuk menambah ilmu pengetahuan penulis dan pembaca hendaknya.
Selain
itu, makalah ini juga bertujuan
untuk memenuhi salah satu tugas perkuliahan semester II pada program doktor
Pascasarjana Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang tahun 2020 dalam mata
kuliah Metodologi Penelitian yang dibimbing oleh Bapak Prof. Dr. H. Syafruddin
Nurdin, M.Pd.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Instrument Penelitian
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian pengumpulan
data adalah proses, cara, perbuatan mengumpulkan, atau menghimpun data. Teknik
pengumpulan data ialah cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk
menghimpun data. Metode (cara atau teknik) menunjuk suatu kata yang abstrak dan
tidak diwujudkan dalam benda, tetapi hanya dapat dilihat penggunaannya melalui:
angket, wawancara, pengamatan, ujian (tes), dokumentasi dan lainya. Pengumpulan
data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai
tujuan penelitian. Tujuan yang diungkapkan dalam bentuk hipotesis merupakan
jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian. Jawaban itu masih perlu diuji
secara empiris, dan untuk maksud inilah dibutuhkan pengumpulan data.
Instrumen penelitian adalah semua alat yang digunakan
untuk mengumpulkan, memeriksa, menyelidiki suatu masalah.
Instrumen penelitian dapat diartikan pula sebagai alat untuk mengumpulkan, mengolah, menganalisa dan menyajikan
data-data secara sistematis serta objektif dengan tujuan memecahkan suatu
persoalan atau menguji suatu hipotesis. Jadi semua alat yang bisa mendukung
suatu penelitian bisa disebut instrumen penelitian.
Menurut Suharsimi Arikunto, instrumen pengumpulan data
adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam
kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis
dan di permudah olehnya.[1]
Kemudian Menurut Sugiyono teknik pengumpulan data merupakan langkah
yang paling strategis dalam peneliian, karena tujuan utama dari penelitian
adalah mendapatkan data.[2]
Ibnu Hadjar berpendapat bahwa instrumen merupakan alat
ukur yang digunakan untuk mendapatkan informasi kuantitatif tentang
variasi karakteristik variabel secara objektif.[3]
Instrumen pengumpul data menurut Sumadi Suryabrata adalah alat yang digunakan
untuk merekam-pada umumnya secara kuantitatif-keadaan dan aktivitas
atribut-atribut psikologis.[4]
Atibut-atribut psikologis itu secara teknis biasanya digolongkan menjadi
atribut kognitif dan atribut non kognitif. Sumadi mengemukakan bahwa untuk
atribut kognitif, perangsangnya adalah pertanyaan. Sedangkan untuk atribut non-kognitif,
perangsangnya adalah pernyataan.
Instrumen merupakan
komponen kunci dalam suatu penelitian. Mutu instrumen akan menentukan mutu data
yang digunakan dalam penelitian, sedangkan data merupakan dasar kebenaran
empirik dari penemuan atau kesimpulan penelitian. Oleh karena itu, instrumen
arus dibuat dengan sebaik-baiknya. Untuk memmbuat instrumen penelitian, paling
tidak ada tiga hal yang arus diperhatikan, yaitu masalah penelitian, variabel
penelitian, dan jenis instrumen yang akan digunakan.[5]
Dalam penelitian
kuantitatif, kualitas instrumen penelitian berkenaan dengan validitas dan
reliabilitas instrumen dan kualitas pengumpulan data berkenaan ketepatan
cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data. Oleh karena itu instrumen
yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, belum tentu dapat menghasilkan
data yang valid dan reliabel, apabila instrumen tersebut tidak digunakan secara
tepat dalam pengumpulan datanya. Instrumen dalam penelitian kuantitatif dapat
berupa test, pedoman wawancara, pedoman observasi, dan kuesioner.
Dalam penelitian
kualitatif, yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu
sendiri. Oleh karena itu peneliti sebagai instrumen juga harus “divalidasi”
seberapa jauh peneliti kualitatif siap melakukan penelitian yang selanjutnya
terjun ke lapangan. Validasi terhadap peneliti sebagai instrumen meliputi
validasi terhadap pemahaman metode penelitian kualitatif, penguasaan wawasan
terhadap bidang yang diteliti, kesiapan peneliti untuk memasuki obyek
penelitian, baik secara akademik maupun logistiknya. Yang benar-benar menguasai
situasi sosial yang diteliti (obyek), maka merupakan keuntungan bagi peneliti,
karena tidak memerlukan banyak sampel lagi, sehingga penelitian cepat selesai.
Jadi yang menjadi kepedulian bagi peneliti kualitatif adalah “tuntas dan
kepastian” perolehan informasi dengan keragaman variasi yang ada, bukan
banyaknya sampel sumber data.[6]
Dari beberapa pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan
bahwa instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan oleh peneliti untuk
mengumpulkan informasi kuantitatif tentang variabel
yang sedang diteliti.
B.
Macam-Macam Instrument Penelitian
Instrumen penelitian
dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu tes dan nontes. Tes memiliki sifat
mengukur, sedangkan nontes memiliki sifat menghimpun. Tes terdiri diantara
beberapa jenis, di antaranya tes tertulis, tes lisan, dan tes tindakan, sedangkan
nontes terdiri dari angket, observasi, wawacara, skala sikap, daftar cek skala
peilaian, studi dokumentasi, dan sebagainya.[7]
Dalam kegiatan
penelitian untuk memperoleh data yang berasal dari lapangan, seorang peneliti
biasanya menggunakan instrumen yang baik dan mampu mengambil informasi dari
objek atau subjek yang diteliti. Disamping itu, mereka juga dapat menggunakan
instrumen yang sudah ada yang telah dimodifikasi agar memenuhi persyaratan yang
baik bagi suatu instrumen. Di bidang pendidikan dan tingkah laku, instrumen
penelitian pada umumnya perlu mempunyai dua syarat penting, yaitu validasi dan
reliabel.[8]
1. Tes
Tes adalah suatu teknik pengukuran yang di dalamnya
terdapat berbagai pertanyaan, pernyataan, atau serangkaian tugas yang harus
dikerjakan atau dijawab oleh responden. Tes dapat dibedakan atas beberapa
jenis,salah satunya menurut Heaton, misalnya, membagi tes menjadi
empat bagian, yaitu tes prestasi belajar (achievement
test), tes penguasaan (proviency test),
tes bakat (aptitude test), dan tes
diagnostik (diagnostic test).[9]
Pembagian jenis tes menunjukkan banyaknya ragam tes
yang dapat digunakan dalam penelitian. Jenis atau bentuk tes mana yang
digunakan sangat bergantung dengan masalah dan tujuan penelitian. Setiap jenis
atau bentuk tes tentu mempunyai tujuan dan fungsi masing-masing. Salah satu
bentuk tes yang banyak digunakan dalam penelitian adalah tes objektif atau
sering disebut tes dikotomi (dichotomously scored item) karena jawabanya antara
benar atau salah dan skornya antara 1 atau 0. Disebut tes objektif karena penilaiannya
objektif. Siapapun yang mengoreksi tes objektif hasilnya akan sama karena kunci
jawabanyya sudah jelas dan pasti.
Tes dapat berupa serentetan pertanyaan, lembar
kerja, atau sejenisnya yang dapat digunakan untuk mengukur pengetahuan,
ketrampilan, bakat, dan kemampuan dari subjek penelitian. Lembar instrumen
berupa tes ini berisi soal-soal tes yang terdiri atas butir-butir soal. Setiap
butir-butir soal mewakili satu jenis variabel yang diukur.
Bentuk instrumen ini dapat dipergunakan salah
satunya dalam mengevaluasi kemampuan hasil belajar siswa di sekolah dasar,
tentu dengan memperhatikan aspek-aspek mendasar seperti kemampuan dalam
pengetahuan, sikap serta kemampuan dalam pengetahuan, sikap serta ketrampilan
yang dimiliki baik setelah menyelesaikan salah satu materi tertentu atau
seluruh materi yang telah di sampaikan.[10]
2. Angket (Questioner)
Angket adalah instrumen penelitian yang berisi
serangkaian pertanyaan atau pernyataan untuk menjaring data atau informasi yang
harus dijawab responden secara bebas sesuai dengan pendapatnya. Pertanyaan
tersebut ada yang terbuka dan ada yang tertutup. Angket mempunyai kesamaan
dengan wawancara, kecuali dalam implementasinya, dimana angket dilaksanakan
secara tertulis, sedangkan wawancara dilaksanakan secara lisan.
Questioner ada dua macam:[11] questioner
berstruktur atau bentuk tertutup. Questioner berstuktur berisi
pertanyaan-pertanyaan yang disertai dengan pilihan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan
tersebut. Pelaksanaan dan pemberian skor quesioner berstruktur bersifat
langsung dan hasilnya pun langsung mengarah kepada analisis. Quesioner jenis
ini memiliki kelemahan, yaitu memaksa subjek memilih salah satu dari pilihan
jawaban yang telah ditetapkan terlebih dahulu bagi pesertanya, pertanyaan yang
mungkin sebenarnya ia merasa tidak mempunyai jawaban yang jelas, atau memilih
jawaban yang tidak mencerminkan sikap mereka.
Dalam angket tertutup, sebaiknya disediakan ruang
khusus untuk menuliskan alternatif jawaban yang belum diketahui sebelumnya.
Untuk jenis informasi tertentu , angket tertutup ternyata sangat memuaskan.
Angket tertutup mudah diisi, memerlukan waktu yang sangat singkat, memusatkan
responden pada pokok persoalan, relatif objektif, dan sangat mudah dianalisis.[12]
Questioner tak-berstruktur atau
bentuk terbuka. Questioner tak-berstruktur tidak menyediakan jawaban yang
diharapkan, jadi angket yang menghendaki jawaban bebas atau jawaban
dengankalimat responden sendiri. Questioner tak-berstruktur memiliki kelebihan
yakni memberi responden kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan sifat
mereka. kelemahan quesioner tak-berstruktur adalah bahwa informasi yang
dihasilkan sulit untuk diproses dan dianalisis. Dalam menjawab questioner
tak-berstruktur, subjek mungkin akan melewatkan hal-hal yang penting atau
menekankan hal-hal yang tidak menarik perhatian peneliti. Karena alasan inilah,
maka kebanyakan peneliti menghindari penggunaan questioner tak-berstruktur dan
lebih suka menggunakan questioner berstruktur.[13]
3. Observasi (Pengamatan)
Observasi dalam sebuah penelitian diartikan sebagai
pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan melibatkan seluruh indera untuk
mendapatkan data. Jadi observasi merupakan pengamatan langsung dengan
menggunakan penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, atau kalau perlu
dengan pengecapan. Hal ini dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara
sistematik gejala-gejala yang diselidiki.[14]
4. Interview
Sering kali disebut wawancara atau kuisioner lisan
yaitu dialog yang dilakukan pewawancara untuk memperoleh informasi dari sumber
informasi. Interview biasa digunakan untuk menilai keadaan seseorang seperti
mencari latar belakan murid, orang tua, pendidikan dan sikap seseorang.
5. Dokumentasi
Studi dokumentasi adalah teknik
untuk mempelajari dan menganalisis bahan-bahan tertulis kantor atau sekolah,
seperti silabus, program tahunan, program bulanan, program mingguan, RPP,
kisi-kisi, buku rapor, daftar nilai, dan lain-lain.
Dokumen adalah merupakan catatan
peristiwa yang telah lalu. Dokumen dapat berbentuk tulisan, gambar, atau karya
menumental dari seseorang lainnya. Dokumen yang berbentuk tulisan, misalnya
catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), cerita, biografi,
peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar
hidup, sketsa, film, video, CD, DVD, cassete, dan lain-lain. Dokumen yang
berbentuk karya misalnya karya seni, karya lukis, patung naskah, tulisan,
prasasti dan lain sebagainya.
Secara interpretatif dapat diartikan bahwa
dekumen merupakan rekaman kejadian masa lalu yang ditulis atau dicetak, dapat
merupakan catatan anekdotal, surat, buku harian dan dokumen-dokumen.
C.
Langkah-Langkah Penyusunan Instrumen
Dalam mengukur suatu variabel penelitian, seorang
peneliti dapat menyusun sendiri instrumen penelitian. Namun, dalam hal-hal
tertentu peneliti dapat menggunakan instrumen yang telah ada yaitu berupa
instrumen baku atau instrumen yang telah digunakan dalam penelitian
sebelumnya. Instrumen yang telah
ada itu dapat pula merupakan instrumen yang disusun berdasarkan suasana sosial
budaya asing. Untuk itu, peneliti tidak cukup hanya menerjemahkan setiap butir
instrumen, melainkan harus menyadurnya dengan seksama. Pemakaian instrumen yang
telah ada tersebut tidak luput dari kriteria yang dikenakan pada instrumen yang
disusun sendiri. Dengan kata lain penyaduran instrumen harus pula diikuti oleh
pengujian mutu instrumen sesuai dengan kriteria yang dimaksud.
Ada beberapa langkah
umum yang bisa ditempuh dalam menyusun instrumen penelitian. Langkah-langkah
tersebut adalah:
1.
Analisis variabel penelitian, yakni
mengkaji variabel menjadi sub penelitian sejelas-jelasnya, sehingga indikator
tersebut bisa diukur dan menghasilkan data yang diinginkan peneliti. Dalam
membuat indikator variabel, peneliti dapat menggunakan teori atau konsep-konsep
yang ada dalam pengetahuan ilmiah yang berkenaan dengan variabel tersebut, atau
menggunakan fakta empiris berdasarkan pengamatan lapangan.
2.
Menetapkan jenis instrumen yang
digunakan untuk mengukur variabel, subvariabel atau indikator-indikatornya.
Satu variabel mungkin bisa diukur oleh atau jenis instrumen, bisa pula lebih
dari satu instrumen.
3.
Setelah ditetapkan jenis instrumennya,
peneliti menyusun kisi-kisi atau layout Kisi-kisi ini berisi
lingkup materi pertanyaan, abilitas yang diukur, jenis pertanyaan, banyak
pertanyaan, waktu yang dibutuhkan. Materi atau lingkup materi pertanyaan
didasarkan pada indikator varibel. Artinya, setiap indikator akan menghasilkann
beberapa luas lingkup isi pertanyaan, serta abilitas yang diukurnya. Abilitas
dimaksudkan adalah kemampuan yang diharapkan dari subjek yang diteliti.
Misalnya kalau diukur prestasi belajar, maka abilitas prestasi tersebut dilihat
dari kemampuan subjek dalam hal pengenalan, pemahaman, aplikasi, analisis,
sintesis, evaluasi. Atau bila diukur sikap seseorang, maka lingkup abilitas
sikap kita bedakan aspek kognisi, afeksi, dan konasinya.
4.
Berdasarkan kisi-kisi tersebut lalu
peneliti menyusun item dan pertanyaan sesuai dengan jenis instrumen dan jumlah
yang telah ditetapkan dalam kisi-kisi. Jumlah pertanyaan bisa dibuat lebih dari
yang ditetapkan sebagai item cadangan. Setiap item yang dibuat peneliti harus
sudah punya gambaran jawaban yang diharapkan. Artinya, prakiraan jawaban yang
betul/diinginkan harus dibuat peneliti.
5.
Instrumen yang sudah dibuat sebaiknya
diuji coba digunakan untuk revisi instrumen, misalnya membuang instumen yang
tidak perlu, menggantinya dengan item yang baru, atau perbaikan isi dan redaksi
atau bahasannya.[15]
Salah
satu langkah penting dalam penyusunan instrumen sendiri adalah melakukan uji
coba perangkat instrumen. Langkah ini sering diabaikan oleh peneliti karena
menjadi beban berat dan dianggap kurang ada manfaatnya. Padahal, langkah uji
coba ini sangat besar manfaatnya dan mempunyai tujuan tertentu, yaitu untuk
mengetahui: a) apakah instrumen itu dapat di administrasikan dengan mudah, hal
ini dapat dilakukan dengan observasi, b) apakah setiap butir itu dapat dibaca
dan dipahami oleh responden, c) ketepatan instrumen, baik butir instrumen
maupun perangkat instrumen secara keseluruhan, dan d) ketetapan (reliabilitas)
instrumen.[16]
Iskandar[17] dalam
bukunya mengemukakan ada enam langkah dalam penyusunan instrumen penelitian,
yaitu :
1.
Mengidentifikasikan variabel-variabel
yang diteliti.
2.
Menjabarkan variabel menjadi
dimensi-dimensi
3.
Mencari indikator dari setiap dimensi.
4.
Mendeskripsikan kisi-kisi instrumen
5.
Merumuskan item-item pertanyaan atau
pernyataan instrumen
6.
Petunjuk pengisian instrumen.
Kemudian
berbeda dengan itu, menurut Margono
ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun instrumen penelitian,
yaitu sebagai berikut.
1.
Masalah
dan variabel yang diteliti termasuk indikator variable, harus jelas spesifik sehingga dapat dengan
mudah menetapkan jenis instrumen yang akan digunakan.
2.
Sumber data/informasi baik jumlah maupun
keragamannya harus diketahui terlebih dahulu, sebagai bahan atau dasar dalam
menentukan isi, bahasa, sistematika item dalam instrument penelitian.
3.
Keterampilan dalam instrument itu
sendiri sebagai alat pengumpulan data baik dari kejagaan, kesahihan, maupun
objektivitasnya.
4.
Jenis data yang diharapkan dari
penggunaan instrument harus jelas, sehingga peneliti dapat memperkirakan cara
analisis data guna pemecahan masalah penelitian.
5.
Mudah dan praktis digunakan akan tetapi
dapat menghasilkan data yang diperlukan.[18]
D.
Teknik Pengujian Validitas Dan Reliabiltasnya
Adapun
syarat-syarat pokok dalam suatu instrumen penelitian adalah validitas dan
reliabilitas.
1. Validitas
(ketepatan/kesahihan)
Validitas adalah suatu derajat ketepatan instrumen (alat
ukur), apakah instrumen yang akan digunakan betul-betul tepat untuk mengukur
apa yang akan diukur. Dalam literatur modern tentang penelitian dan evaluai,
banyak dikemukakan jenis-jenis validitas, antara lain:
a.
Validitas
permukaan, validitas ini menggunakan kriteria yang sangat sederhana, karena
hanya melihat dari sisi muka atau tampang dari instrumen itu sendiri. Artinya,
jika suatu tes secara sepintas telah dianggap baik, maka tes tersebut sudah dapat
dikatakan memenuhi syarat validitaspermukaan, dan tidak perlu lagi adanya
judgement yang mendalam.
b.
Validitas
isi, sering digunakan dalam pengukuran hasil belajar. Tujuan utamanya adalah
untuk mengetahui sejauh mana peserta didik menguasai materi pelajaran yang
telah disampaikan.
c.
Validitas
empiris, biasanya menggunakan tehnik statistik, yaitu analisis korelasi.
Hal ini disebabkan validitas empiris mencari hubungan antara skor tes dan suatu
kriteria tertentu yang merupakan suatu tolok ukur diluar tes yang bersangkutan.
d.
Validitas
konstruk, konstruk adalah konsep yang dapat diobservasi dan dapat diukur.
Validitas konstruk sering juga disebut validitas logis, validitas konstruk
banyak dikenal dan digunakan dalam tes-tes psikologis untuk mengukur gejala
perilaku yang abstrak, seperti kesetiakawanan, kematangan emosi, sikap, emosi,
minat, dan sebagainya.
e.
Validitas
faktor, dalam penelitian sering digunakan skala pengukuran tentang suatu
variabel yang terdiri atas beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut diperoleh
berdasarkan indikator dari variabel yang diukur sesuai apa yang terungkap dalam
konstruksi teoretisnya. Meskipun variabel terdiri dari beberapa faktor, prinsip
homogenitas untuk keseluruhan faktor harus tetap dipertahankan, sehingga tidak terjadi tumpang tindih antara satu faktor dan faktor
lain.
2. Reliabilitas
(ketetapan/keajekan)
Suatu instrumen dapat dikatakan reliabel jika selalu
memberikan hasil yang sama jika diujikan pada kelompok yang sama, pada waktu
atau kesempatan yang berbeda. Menurut perhitungan product-moment dari Pearson, ada tiga macam reliabilitas, yaitu:
a.
Koefisien
stabilitas adalah jenis reliabilitas yang menggunakan tehnik test and retest,
yaitu memberikan tes kepada sekelompok individu, kemudian diadakan pengulangan
tes pada kelompok yang sama dengan waktu yang berbeda.
b.
Koefisien
ekuivalen adalah jika mengkorelasikan dua buah tes yang paralel pada
kelompok dan waktu yang sama.
c.
Koefisien
konsistensi internal adalah
reliabilitas yang didapat dengan jalan menkorelasikan dua buah tes dari
kelompok yang sama, tetapi diambil dari buir-butir yang bernomor genap untuk
tes yang pertama dan butir-butir bernomor ganjil untuk tes yang kedua.[19]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Instrumen penelitian adalah semua alat yang digunakan
untuk mengumpulkan, memeriksa, menyelidiki suatu masalah.
Instrumen penelitian dapat diartikan pula sebagai alat untuk mengumpulkan, mengolah, menganalisa dan menyajikan
data-data secara sistematis serta objektif dengan tujuan memecahkan suatu
persoalan atau menguji suatu hipotesis. Jadi semua alat yang bisa mendukung
suatu penelitian bisa disebut instrumen penelitian.
Instrumen penelitian
dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu tes dan nontes. Tes memiliki sufat
mengukur, sedangkan nontes memiliki sifat menghimpun. Tes terdiri diantara
beberapa jenis, di antaranya tes tertulis, tes lisan, dan tes tindakan,
sedangkan nontes terdiri dari angket , observasi, wawacara, skala sikap, daftar
cek skala peilaian, studi dokumentasi, dan sebagainya.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun
instrumen penelitian, yaitu sebagai berikut.
1.
Masalah
dan variabel yang diteliti termasuk indikator variable, harus jelas spesifik sehingga dapat dengan
mudah menetapkan jenis instrumen yang akan digunakan.
2.
Sumber data/informasi baik jumlah maupun
keragamannya harus diketahui terlebih dahulu, sebagai bahan atau dasar dalam
menentukan isi, bahasa, sistematika item dalam instrument penelitian.
3.
Keterampilan dalam instrument itu
sendiri sebagai alat pengumpulan data baik dari kejagaan, kesahihan, maupun
objektivitasnya.
4.
Jenis data yang diharapkan dari
penggunaan instrument harus jelas, sehingga peneliti dapat memperkirakan cara
analisis data guna pemecahan masalah penelitian.
5.
Mudah dan praktis digunakan akan tetapi
dapat menghasilkan data yang diperlukan.
Adapun
syarat-syarat pokok yang harus diperhatikan dalam suatu instrumen penelitian adalah validitas dan
reliabilitas.
B.
Saran
Demikian
makalah yang saya buat, saya menyadari masih terdapat banyak kesalahan dalam
makalah kami. Kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan demi perbaikan
makalah saya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi semua kalangan.
DAFTAR PUSTAKA
Arif Furchan, Pengantar
Penelitian dalam Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983).
Cholid Narbuko, Metodologi
Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010).
Ibnu Hadjar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian
Kwantitatif dalam Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996).
Iskandar, Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial
(Kuantitatif dan Kualitatif), (Jakarta: Gaung Persada Press, 2008).
Margono, Metodologi
Penelitian Pendidikan, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2010).
Nursiyam Afifah, Macam-macam
Instrumen Penelitian, (http://membumikan-pendidikan.blogspot. com/
2014/09/ macam-macam instrument penelitian.html), diakses pada: selasa, 17
Maret 2015. Pkl: 09.56
Nurul
Zuriah, Metodologi Penelitian Sosial Dan Pendidikan, (Jakarta:
Bumi Aksara, 2007).
Sanapiah Faisal, Metodologi
Penelitian dan Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1982).
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung:
Alfa Beta, 2012).
Sugiyono, Metode Penelitian
Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung:
Alfabeta, 2013).
Suharsimi
Arikunto, Manajemen Penelitian,
(Jakarta: Rineka Cipta, 2000).
Sukardi, Metodologi
Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Praktiknya, (Jakarta: PT Bumi
Aksara, 2011).
Sumadi Suryabrata,
Metodologi Penelitian, (Jakarta: RajaGrafindo
Persada, 2008).
Zainal
Arifin, Penelitian Pendidikan, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2011).
Zainal Arifin, Penelitian
Pendidikan: Metode dan Paradigna Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2012).
[1] Suharsimi
Arikunto, Manajemen Penelitian,
(Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hal 134.
[2] Sugiyono,
Metode Penelitian Pendidikan,
(Bandung: Alfa Beta, 2012), hal 224.
[3] Ibnu
Hadjar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian
Kwantitatif dalam Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996),
hal 160.
[4] Sumadi
Suryabrata, Metodologi Penelitian,
(Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2008), hal 52.
[5] Zainal
Arifin, Penelitian Pendidikan: Metode dan Paradigna Baru, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2012), hal 225.
[6] Sugiyono, Metode
Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung:
Alfabeta, 2013), hal 305.
[7] Ibbid, hal 226.
[8] Sukardi, Metodologi
Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Praktiknya, (Jakarta: PT Bumi
Aksara, 2011), hal 121.
[9] Op.cit, Zainal Arifin, hal 226.
[10] Nursiyam Afifah, Macam-macam
Instrumen Penelitian, (http://membumikan-pendidikan.blogspot. com/
2014/09/macam-macam-instrumen-penelitian.html), diakses pada: selasa, 17 Maret
2015. Pkl: 09.56
[11] Arif Furchan, Pengantar
Penelitian dalam Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), hal 249.
[12] Sanapiah Faisal, Metodologi
Penelitian dan Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), hal 179.
[13] Op.cit, hal 250.
[14] Cholid Narbuko, Metodologi
Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hal 70.
[15] Nurul
Zuriah, Metodologi Penelitian Sosial Dan Pendidikan, (Jakarta:
Bumi Aksara, 2007) hal 169.
[16] Zainal
Arifin, Penelitian Pendidika, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2011), hal 244-245.
[17] Iskandar,
Metodologi Penelitian Pendidikan dan
Sosial (Kuantitatif dan Kualitatif), (Jakarta: Gaung Persada Press,
2008), hal 79.
[18] Margono, Metodologi
Penelitian Pendidikan, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2010), hal 155-156.
[19] Op.cit, Zainal Arifin, hal 245-248.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar