Jumat, 05 Juni 2020

CHAPTER REPORT TENTANG : GENERALISATIONS, FACTS AND ACADEMIC HONESTY

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CHAPTER REPORT

 

TENTANG

GENERALISATIONS, FACTS AND ACADEMIC HONESTY

 

 

 

 

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Metodologi Penelitian

Oleh:

Zaharuddin. M

NIM: 1920090021

 

 

Dosen Pengampu:

Prof. Dr. H. Syafruddin Nurdin, M.Pd

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM

PROGRAM DOKTORAL PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

IMAM BONJOL PADANG

2020

KATA PENGANTAR

 

 

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat inayah serta hidayah-Nya. Sehingga saya dapat menyelesaikan tugas ini. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada baginda Rosululloh  Sallallahu ‘alaihi wasallam  semoga kita mendapatkan syafaat di hari akhir nanti. Amin.

Chapter Report ini di buat sebagai tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian Program Studi Pendidikan Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, dengan Dosen Pembimbing Prof. Dr. H. Syafruddin Nurdin, M.Pd.

Saya sadar bahwa dalam penyusunan Chapter Report ini masih jauh sekali dari sempurna. Karenanya, kritik dan saran anda sangat saya butuhkan demi memperbaiki di pembuatan Chapter Report mendatang.

Saya berharap semoga Chapter Report ini dapat bermanfaat bagi diri saya sendiri dan bagi pembaca pada umumnya serta menjadi sebuh kajian yang menarik tentang Generalisations, facts and academic honesty.

 

 

                                                                                                Padang,        2020

                                                                                                Penulis

 

 

                                                                                                ZAHARUDDIN M.

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang

Menulis adalah pengutaraan gagasan dengan menggunakan bahasa secara tertulis. Dengan mengutarakan sesuatu dimaksudkan menyampaikan, memberitakan, menceritakan, melukiskan, menerangkan, meyakinkan, dan sebagainya kepada pembaca agar mereka memahami apa yang terjadi pada suatu peristiwa atau suatu kegiatan. Orang yang mengutarakan gagasan ini dinamakan penulis, sedangkan hasil pengutaraannya berupa tulisan. Menulis juga diartikan sebagai komunikasi. Komunikasi menulis terdapat empat unsur, yaitu menulis merupakan bentuk ekspresi diri, menulis merupakan sesuatu yang umum disampaikan kepada pembaca, menulis merupakan aturan dan tingkah laku, dan menulis merupakan sebuah cara belajar (Wiyanto, 2008:2).

Kemampuan menulis merupakan hal penting yang harus dikuasai oleh mahasiswa. Dengan menulis makalah, mahasiswa dapat meningkatkan kualitas diri mereka di perguruan tinggi. Di samping itu, tagihan tugas untuk setiap matakuliah biasanya berbentuk makalah. Proses menjadikan mahasiswa berkualitas dapat diawali dengan pembinaan dan pengembangan kemampuan menulis makalah. Ke mampuan menulis merupakan kegiatan yang menggabungkan pengetahuan intelektual dan berpikir logis dilanjutkan dengan pemilihan bahasa yang efektif dan komunikatif untuk diungkapkan dalam bentuk tulisan ilmiah.

Blumner (2008:21) menjelaskan bahwa kekurangan sebuah tulisan terdapat pada aspek kebahasaan dan teknik menulis. Para penulis pemula sering mengalami kesulitan dalam kebahasaan yang meliputi masalah kemenarikan, kesesuaian, ejaan, tanda baca, pilihan kata, kelengkapan, keruntutan, keefektifan kalimat, dan kepaduan paragraf. Selain itu, tulisan tidak konsisten penyajiannya karena tidak sesuai dengan prosedur yang ada. Belajar menulis teks yang koheren dan efektif merupakan suatu pencapaian yang sulit. Menulis teks pada tingkat mahir tidak hanya melibatkan sistem bahasa. Hal ini merupakan tantangan tersendiri terhadap sistem kognitif, yaitu memori dan berpikir (Kellog, 2008:2).

Komposisi menulis teks lanjutan sering dianggap sebagai suatu bentuk pemecahan masalah. Masalah isi (apa yang disampaikan, masalah retoris, dan bagaimana cara menyampaikan) cukup menyita perhatian penulis. Sejalan dengan hal tersebut, Rijlaarsdam (2008:2) memaparkan bahwa kesulitan menulis muncul karena ada perubahan cara sudut pandang, yaitu perubahan bahasa sebagai alat komunikasi bergerak dari mempelajari bahasa sebagai sebuah sistem menjadi peningkatan bahasa bersituasi komunikatif. Dengan kata lain, pembelajaran berubah dari pembelajaran sebagai suatu pemerolehan pengetahuan ke pembelajaran sebagai sebuah proses partisipasi.

Berdasarkan permasalahan-permasalahan di atas, perlu diberikan perlakuan khusus berupa strategi pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan menulis makalah mahasiswa, yaitu strategi peta pikiran. Strategi pembelajaran ini bertujuan untuk meningkatkan, memperbaiki, dan mengubah keadaan perkuliahan menulis yang selama ini berlangsung kurang kondusif dan menguntungkan, khususnya menulis.

B.           Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang tersebut diatas, maka dapat penulis tarik beberapa rumusan masalah, yaitu sebagai berikut :

  1. Bagaimana langkah-langkah dalam meningkatkan kemampuan menulis ?

C.          Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari pembuatan Chapter Report ini adalah sebagai salah satu tugas mata kulyah Metodologi Penelitian, dan sebagai bahan kajian atau diskusi bersama tentang masalah-masalah sebagai berikut :

  1. Langkah-langkah dalam meningkatkan kemampuan menulis.

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

Pada unit atau bab ini akan membahas tentang bagaimana meningkatkan kemampuan menulis anda dengan beberapa langkah atau beberapa konsep sebagai berikut:

A.          Prinsip Kejujuran

Prinsip kejujuran mengatakan hanya katakan (atau tulis) apa yang Anda miliki buktinya.  Ini adalah prinsip penting bagi penulis akademis karena ada banyak orang yang akan membaca karya akademis dengan cermat, dan mengkritik generalisasi atau klaim yang tidak didukung oleh bukti.  mengikuti Prinsip Kejujuran membantu Anda menulis pernyataan yang dipertimbangkan dengan cermat dan menghindari generalisasi yang berlebihan.

Kejujuran akademik adalah konsep yang dapat dipahami dari berbagai segi, yang memungkinkan banyak perilaku ketidak jujuran akademik diinterpretasi dan diperdebatkan. Ketidak jujuran akademik adalah upaya penulis untuk memperoleh hasil yang diinginkan dengan cara-cara yang dilarang dan tidak dibenarkan.

Kejujuran akademik dapat sebagai perilaku yang terkait dengan menyontek saat ujian, kerjasama saat ujian (mendapatkan dan memberi informasi tentang ujian), plagiat (mengkopi dari materi tertentu), hacking pada komputer, memalsukan informasi (misalnya; membohongi instruktur tentang sakit, atau menggunakan informasi yang keliru untuk mendapatkan toleransi/ penundaan tugas. Ketidak jujuran akademik terdiri dari empat kategori, menyontek, memberikan informasi palsu, memfasiliti ketidak jujuran akademik dan plagiat. Jadi, dari berbagai definisi ketidak jujuran akademik dapat disimpulkan ketidak jujuran akademik sebagai perilaku dan kecenderungan untuk menyontek, plagiat, berbohong dan melakukan hal-hal yang tidak lazim dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik dan ujian.

Kejujuran adalah salah satu nilai moral yang harus dijunjung tinggi dalam segala aspek kehidupan. Kejujuran harus menjadi landasan seseorang dalam berkata maupun berperilaku disetiap aktivitas kehidupan. Kejujuran adalah wujud ketulusan hati atau kelurusan hati seseorang dalam bertindak. Dengan demikian kejujuran dapat diartikan sebagai sikap hati yang tulus atau lurus yang mendasari suatu tindakan. Kelurusan hati ini mengandaikan adanya keselarasan antara hati dengan sesuatu yang benar atau lurus, seperti kebenaran yang diyakininya atau kebenaran yang ada dalam aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakat dimana seseorang hidup. Kejujuran dalam arti inilah yang hendaknya diterapkan dalam kehidupan bersama dimanapun dan kapanpun kita berada.

Kejujuran akademik dalam lingkup perguruan tinggi, lebih pada aktifitas akademik masyarakat kampus, khususnya mahasiswa yang sesuai dengan hakekat mereka sebagai kaum intelektual. Namun, yang sekarang menjadi fenomena adalah merebaknya perilaku-perilaku ketidakjujuran mahasiswa dalam konteks akademik. Dalam lingkup pendidikan, khususnya pada tingkat perguruan tinggi dewasa ini kejujuran akademik seamakin terkikis. Misalnya, menyontek dalam ujian, copy paste dalam pembuatan karya ilmiah, sampai pada tindakan menjualbelikan ijasah dan gelar. Meskipun praktik-praktik demikian bersifat kasuistik atau dengan kata lain menjadi tindakan dari segelintir orang saja, tanpa harus menggeneralisir semua masyarakat akademik yang ada pada tingat perguruan tinggi, tetapi kita harus tetap melihat dan mengakui adanya fenomena tersebut.

Tindakan plagiat bisa dikatakan sebagai bagian dari kecurangan akademis, karena tindakan menggunakan karya seseorang tanpa mencantumkan sumber tulisan yang bersangkutan merupakan tindakan yang salah secara moral dan hukum. Plagiat menjadi tindakan yang menciderai salah satu nilai tertinggi karya tulis ilmiah, yaitu orisinalitas atau keaslian.

 

B.           Bahasa Generalisasi

Menulis   merupakan   proses   bernalar.  Untuk   menulis   mengenai   suatu   topik  kita   harus berfikir, menghubung-hubungkan berbagai fakta, membandingkan dan sebagainya. Setiap saat selama hidup kita, terutama dalam keadaan jaga  (tidak tidur), kita selalu berfikir. Menulis merupakan kegiatan mental. Pada waktu kita berfikir, dalam benak kita timbul serangkaian gambar sesuatu yang tidak hadir secara nyata. Kegiatan ini mungkin tidak terkendali, terjadi dengan sendirinya, tanpa kesadaran, misalnya melamun. Kegiatan yang lebih tinggi dilakukans ecara  sadar, tersusun dalam urutan  yang saling  berhubungan, dan  bertujuan untuk sampaikepada suatu kesimpulan. Jenis kegiatan berfikir yang terakhir inilah yang disebut kegiatan bernalar. Dapatlah dicatat bahwa proses bernalar atau singkatnya penalaran merupakan prosesberfikir yang sistematik untuk memperoleh kesimpulan berupa pengetahuan. Kegiatan penalaran mungkin bersifat ilmiah atau tidak ilmiah. Dari prosesnya, penalaran itu dibedakan sebagai penalaran induktif dan deduktif.

Penalaran (reasioning) adalah suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta atau petunjuk menuju suatu kesimpulan. Dengan kata lain, penalaran adalah proses berpikir yang sistematik dalan logis untuk memperoleh sebuah kesimpulan. Bahan pengambilan kesimpulan itu dapat berupa fakta, informasi, pengalaman, atau pendapat para ahli (otoritas). Secara umum, ada dua jenis penalaran atau pengambilan kesimpulan, yakni penalaran induktif dan deduktif.

Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari sejumlah gejala atau peristiwa yang serupa untuk menarik kesimpulan mengenai semua atau sebagian dari gejala atau peristiwa itu. Generalisasi diturunka dari gejala-gejala khusus yang diperoleh melalui pengalaman, observasi, wawancara, atau studi dokumentasi. Sumbernya dapat berupa dokumen, statistik, kesaksian, pendapat ahli, peristiwa-peristiwa politik, sosial ekonomi atau hukum. Dari berbagai gejala atau peristiwa khusus itu, orang membentuk opini, sikap, penilaian, keyakinan atau perasaan tertentu.

 

C.          Menulis Tinjauan Literatur

Setiap karya tulis penelitian perlu mengulas teks-teks yang relevan dalam bidangnya, yaitu, untuk memasukkan tinjauan literatur. Tujuan dari tinjauan literatur adalah untuk menempatkan penelitian Anda dalam konteksnya dan menjelaskan pentingnya penelitian Anda. Ulasan Anda harus proporsional dengan ukuran proyek Anda; bacaan latar untuk esai sarjana kurang komprehensif dari pada yang diperlukan untuk disertasi pascasarjana, sehingga penulisan bacaan itu menjadi tinjauan literatur.

Dalam rangka menyusun sebuah proyek penelitian, penulis perlu menulis sebuah kajian literatur atau literature review dalam bahasa Inggris. Kajian literatur merupakan langkah pertama dan penting dalam penyusunan sebuah rencana penelitian. Kajian literatur adalah satu penelusuran dan penelitian kepustakaan dengan membaca berbagai buku, jurnal, dan terbitanterbitan lain yang berkaitan dengan topik penelitian, untuk menghasilkan satu tulisan berkenaan dengan satu topik atau isyu tertentu.

Di perpustakaan penulis kajian literatur akan menjelajahi kajian-kajian yang pernah dilakukan orang tentang satu topik atau isyu tertentu. Dalam kajian literatur untuk kepentingan menghasilkan sebuah tulisan ilmiah, seperti skripsi, tesis, dan disertasi, penulis menjelajahi literatur yang berkaitan dengan topik dan masalah penelitiannya, tentang masyarakat dan daerah penelitian, tentang teori-teori yang pernah digunakan dan dihasilkan orang berkaitan dengan topik penelitian kita, tentang metode penelitian yang digunakan dalam kajian tersebut, dan seterusnya.

Satu projek penelitian-apakah untuk menghasilkan satu laporan bagi satu badan, kantor, atau perusahaan tertentu, atau untuk kepentingan peningkatan pengetahuan pribadi tentang satu hal tertentu, atau untuk diterbitkan dalam sebuah jurnal, atau untuk kepentingan mencapai satu ijazah (skripsi, tesis, dan disertasi) – tentulah menggunakan sejumlah literatur untuk bahan rujukan atau referensi. Mencari, memilih, menimbang, dan membaca literatur adalah pekerjaan pertama dalam projek penelitian apa pun juga.

Kajian literatur dilakukan atas kesadaran bahwa pengetahuan adalah bertambah terus menerus (berakumulasi), bahwa topik penelitian, masyarakat dan daerah penelitian kita sudah pernah dirambah orang sebelumnya, dan kita dapat belajar dari apa yang telah dilakukan orang-orang tersebut. Jadi, kita bukanlah orang yang pertama meneliti topik, masyarakat dan daerah tersebut

Ada dua tujuan utama dari kajian literatur. Pertama, kajian literatur yang dilakukan dengan tujuan untuk menulis sebuah makalah untuk memperkenalkan kajian-kajian baru dalam topik tertentu yang perlu diketahui oleh mereka yang bergiat dalam topik ilmu tersebut. Kajian ini sewaktu-waktu dapat diterbitkan untuk kepentingan umum. Contoh kajian-kajian semacam ini dapat dilihat misalnya dalam Annual Review of Anthropology, Annual Review of Sociology, dan sebagainya. Mereka yang baru menjadi peneliti pemula dalam topik tertentu dapat menggunakan terbitan annual review ini sebagai bacaan awal.

Tujuan kedua dari kajian literatur adalah untuk kepentingan projek penelitian sendiri. Dalam hal ini, membuat kajian literatur adalah untuk memperkaya wawasan kita tentang topik penelitian kita, menolong kita dalam memformulasikan masalah penelitian, dan menolong kita dalam menentukan teori-teori dan metodemetode yang tepat untuk digunakan dalam penelitian kita. Dengan memelajari kajian-kajian orang lain, kita dapat menentukan apakah akan meniru, mengulangi, atau mengeritik satu kajian tertentu. Kajian-kajian orang lain itu kita gunakan sebagai bahan pembanding bagi kajian kita sendiri. Dengan mengkritisi karangan orang lain, kita lalu menciptakan sesuatu yang baru. Dalam tulisan ini khusus akan dibincangkan kajian literatur untuk kepentingan penelitian sendiri, khususnya bagi mahasiswa yang akan menulis karya ilmiah terakhir – skripsi, tesis, atau disertasi.

D.          Proses Penulisan: Bekerja Dengan Kelompok Teman Sebaya

Kelompok teman sebaya merupakan kelompok remaja dimana untuk pertama kalinya remaja tersebut menerapkan prinsip-prinsip hidup bersama dan bekerja sama, dalam jalinan yang kuat tersebut terbentuk norma, nilai-nilai dan simbol. Kelompok sebaya tidak mementingkan adanya stuktur organisasi, namun di antara anggota kelompok merasakan adanya tanggung jawab atas keberhasilan dan kegagalan dalam kelompoknya.

Kelompok teman sebaya merupakan dunia nyata kawula muda, yang menyiapkan panggung dimana dapat menguji diri sendiri dengan orang lain, memberikan sebuah dunia tempat kawula muda dapat melakukan sosialisasi dalam suasana dalam nilai-nilai yang berlaku bukanlah nilai-nilai yang ditetapkan oleh orang dewasa melainkan oleh teman-teman seusianya. Selain itu, teman sebaya terdiri dari anggota-anggota tertentu dari teman-teman yang dapat menerima dan anggota kelompok saling bergantung.

Teman sebaya merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan pada masa-masa remaja. Karena remaja dalam masyarakat moderen seperti sekarang ini menghabiskan sebagian besar waktunya bersama dengan teman sebaya mereka. Pada masa remaja hubungan dengan teman sebaya meningkat secara drastis, dan pada saat yang bersamaan kedekatan hubungan remaja dengan orang tua menurun secara drastis. Padahal keluarga merupakan salah satu konteks sosial yang penting bagi perkembangan individu. Meskipun perkembangan anak juga sangat di pengaruhi oleh apa yang terjadi dalam konteks sosial yang lain seperti relasi dengan teman sebaya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.      Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan di atas, penelitian ini disimpulkan bahwa kemampuan menulis makalah dengan strategi peta pikiran pada aspek judul, pendahuluan, pembahasan, penutup, dan daftar rujukan menunjukkan dapat ditingkatkan dengan strategi peta pikiran. Penjelasan selengkapnya dijabarkan sebagai berikut.

Pertama, Prinsip kejujuran mengatakan hanya katakan (atau tulis) apa yang Anda miliki buktinya.  Ini adalah prinsip penting bagi penulis akademis karena ada banyak orang yang akan membaca karya akademis dengan cermat, dan mengkritik generalisasi atau klaim yang tidak didukung oleh bukti.  mengikuti Prinsip Kejujuran membantu Anda menulis pernyataan yang dipertimbangkan dengan cermat dan menghindari generalisasi yang berlebihan.

Kedua, Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari sejumlah gejala atau peristiwa yang serupa untuk menarik kesimpulan mengenai semua atau sebagian dari gejala atau peristiwa itu. Generalisasi diturunka dari gejala-gejala khusus yang diperoleh melalui pengalaman, observasi, wawancara, atau studi dokumentasi. Sumbernya dapat berupa dokumen, statistik, kesaksian, pendapat ahli, peristiwa-peristiwa politik, sosial ekonomi atau hukum. Dari berbagai gejala atau peristiwa khusus itu, orang membentuk opini, sikap, penilaian, keyakinan atau perasaan tertentu.

Ketiga, Dalam rangka menyusun sebuah proyek penelitian, penulis perlu menulis sebuah kajian literatur atau literature review dalam bahasa Inggris. Kajian literatur merupakan langkah pertama dan penting dalam penyusunan sebuah rencana penelitian. Kajian literatur adalah satu penelusuran dan penelitian kepustakaan dengan membaca berbagai buku, jurnal, dan terbitanterbitan lain yang berkaitan dengan topik penelitian, untuk menghasilkan satu tulisan berkenaan dengan satu topik atau isyu tertentu.

Keempat, Kelompok teman sebaya merupakan kelompok remaja dimana untuk pertama kalinya remaja tersebut menerapkan prinsip-prinsip hidup bersama dan bekerja sama, dalam jalinan yang kuat tersebut terbentuk norma, nilai-nilai dan simbol. Kelompok sebaya tidak mementingkan adanya stuktur organisasi, namun di antara anggota kelompok merasakan adanya tanggung jawab atas keberhasilan dan kegagalan dalam kelompoknya.

 

B.       Saran

Demikian Chapter Report yang dapat penulis sampaikan, tentunya dalam penyusunan Chapter Report ini masih banyak kata-kata atau penyampaian yang kurang jelas ataupun dalam penyajiannya yang kurang lengkap, pastinya Chapter Report ini jauh dari kata sempurna, maka dari itu kritik dan saran sangatlah penulis harapkan untuk menjadikan pelajaran pada masa mendatang.

Harapan penulis agar Chapter Report ini bisa menjadi salah satu bahasan atau rujukan bagi lembaga pendidikan Islam khususnya umumnya semua lembaga pendidikan, dalam rangka mengembangkan lembaga pendidikan Islam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


MAKALAH INSTRUMENT PENELITIAN

Description: Description: Description: Description: Description: Description: Gambar terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MAKALAH

INSTRUMENT PENELITIAN

 

 

 

 

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Metodologi Penelitian

 

Oleh:

Zaharuddin. M

NIM: 1920090021

 

 

Dosen Pengampu:

Prof. Dr. H. Syafruddin Nurdin, M.Pd

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM

PROGRAM DOKTORAL PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

IMAM BONJOL PADANG

2020

KATA PENGANTAR

 

 

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat inayah serta hidayah-Nya. Sehingga saya dapat menyelesaikan tugas ini. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada baginda Rosululloh Sallallahu ‘alaihi wasallam  semoga kita mendapatkan syafaat di hari akhir nanti. Amin.

Makalah ini di buat sebagai tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian Program Studi Pendidikan Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, dengan Dosen Pembimbing Prof. Dr. H. Syafruddin Nurdin, M.Pd.

Saya sadar bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh sekali dari sempurna. Karenanya, kritik dan saran anda sangat saya butuhkan demi memperbaiki di pembuatan makalah mendatang.

Saya berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi diri saya sendiri dan bagi pembaca pada umumnya serta menjadi sebuh kajian yang menarik tentang Instrumen Penelitian.

 

 

                                                                                                Padang,        2020

                                                                                                Penulis

 

 

                                                                                                ZAHARUDDIN M.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

COVER

KATA PENGANTAR …………………………………………...……………… i

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………. ii

BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang …………………………………………………………. 1

B.     Rumusan Masalah ……………………………………………………… 2

C.    Tujuan Penulisan ………………………………………………………. 2

BAB II PEMBAHASAN

A.    Pengertian Instrumen Penelitian  ..………….………………………… 3

B.     Macam-Macam Instrumen Penelitian ………………………………... 5

C.    Langkah-Langkah Penyusunan Instrumen Penelitian ………………. 9

D.    Teknik Pengujian Validitas Dan Reliabiltasnya ……………………. 11

BAB III PENUTUP

A.    Kesimpulan ……………………………………………………………. 13

B.     Saran …………………………………………………………………… 14

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

A.          Latar Belakang

Penelitian dapat diartikan sebagai suatu proses penyelidikan secara sistematis yang ditujukan pada penyediaan  informasi untuk menyelesaikan masalah. Sebagai suatu kegiatan sistematis penelitian harus dilakukan dengan metode tertentu yang dikenal dengan istilah metode penelitin,yakni suatu cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan  kegunaan tertentu. Cara ilmiah ini harus didasari ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris, dan sistematis.

Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk pengumpulan data. Teknik dalam menunjuk suatu kata yang abstrak dan tidak diwujudkan dalam benda, tetapi hanya dapat dilihat penggunaannya melalui: angket, wawancara, pengamatan, ujian (tes), dokumentasi, dan lain-lain. Peneliti dapat menggunakan salah satu atau gabungan teknik tergantung dari masalah yang dihadapi atau yang diteliti. Dalam penelitian ilmiah, agar data yang kita kumpulkan menjadi valid, maka kita harus mengetahui bagaimana cara-cara pengumpulan data dalam penelitian itu, sehingga data yang kita peroleh dapat menjadi pendukung terhadap kebenaran suatu konsep tertentu.

Dalam melaksanakan kegiatan penelitian, keberadaan instrumen penelitian merupakan bagian yang sangat integral dan termasuk dalam komponen metodelogi penelitian karena instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan, memeriksa, menyelidiki suatu masalah yang sedang diteliti.

Suatu intrumen yang baik tentu harus memiliki validitas dan realibitas yang baik. Untuk memperoleh instrument yang baik tentu selain harus diujicobakan, dihitung validitas dan realibiltasnya juga harus dibuat sesuai kaidah-kaidah penyusunan instrument.

Berkaiatan dengan hal tersebut, pada pembahasan ini akan diuraikan berbagai hal terkait dengan instrument penelitian yang pembahasannya diawali dengan pengertian instrumen penelitian, lagkah-langkah penyusunan, teknik pengujian validitas dan reliabiltasnya, teknik pengumpulan data, dan analisis data.

 

B.           Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah penulis ungkapkan di atas, maka dalam makalah ini penulis akan membahas beberapa persoalan yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan dalam dunia pendidikan di Indonesia, di antaranya sebagai berikut:

1.      Apa Pengertian Instrument Penelitian ?

2.      Apa Saja Macam-Macam Instrument Penelitian ?

3.      Bagaimana Langkah-Langkah Penyusunan Instrumen ?

4.      Bagaimana Teknik Pengujian Validitas Dan Reliabiltasnya ?

 

C.          Tujuan Penulisan

Makalah ini diharapkan dapat menjawab semua persoalan di atas yaitu menjelaskan hal-hal yang terkait dengan instrument penelitian serta langkah-langkah dalam menyusun instrumen dan dapat menjadi bahan untuk menambah ilmu pengetahuan penulis dan pembaca hendaknya.

Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas perkuliahan semester II pada program doktor Pascasarjana Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang tahun 2020 dalam mata kuliah Metodologi Penelitian yang dibimbing oleh Bapak Prof. Dr. H. Syafruddin Nurdin, M.Pd.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

A.          Pengertian Instrument Penelitian

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian pengumpulan data adalah proses, cara, perbuatan mengumpulkan, atau menghimpun data. Teknik pengumpulan data ialah cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk menghimpun data. Metode (cara atau teknik) menunjuk suatu kata yang abstrak dan tidak diwujudkan dalam benda, tetapi hanya dapat dilihat penggunaannya melalui: angket, wawancara, pengamatan, ujian (tes), dokumentasi dan lainya. Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Tujuan yang diungkapkan dalam bentuk hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian. Jawaban itu masih perlu diuji secara empiris, dan untuk maksud inilah dibutuhkan pengumpulan data.

Instrumen penelitian adalah semua alat yang digunakan untuk mengumpulkan, memeriksa, menyelidiki suatu masalah. Instrumen penelitian dapat diartikan pula sebagai alat untuk mengumpulkan, mengolah, menganalisa dan menyajikan data-data secara sistematis serta objektif dengan tujuan memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis. Jadi semua alat yang bisa mendukung suatu penelitian bisa disebut instrumen penelitian.

Menurut Suharsimi Arikunto, instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang  dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut   menjadi sistematis dan di permudah olehnya.[1] Kemudian Menurut Sugiyono  teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam peneliian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data.[2]

Ibnu Hadjar berpendapat bahwa instrumen merupakan alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan informasi kuantitatif tentang variasi karakteristik variabel secara objektif.[3]  Instrumen pengumpul data menurut Sumadi Suryabrata adalah alat yang digunakan untuk merekam-pada umumnya secara kuantitatif-keadaan dan aktivitas atribut-atribut  psikologis.[4] Atibut-atribut psikologis itu secara teknis biasanya digolongkan menjadi atribut kognitif dan atribut non kognitif. Sumadi mengemukakan bahwa untuk atribut kognitif, perangsangnya adalah pertanyaan. Sedangkan untuk atribut non-kognitif, perangsangnya adalah  pernyataan.

Instrumen merupakan komponen kunci dalam suatu penelitian. Mutu instrumen akan menentukan mutu data yang digunakan dalam penelitian, sedangkan data merupakan dasar kebenaran empirik dari penemuan atau kesimpulan penelitian. Oleh karena itu, instrumen arus dibuat dengan sebaik-baiknya. Untuk memmbuat instrumen penelitian, paling tidak ada tiga hal yang arus diperhatikan, yaitu masalah penelitian, variabel penelitian, dan jenis instrumen yang akan digunakan.[5]

Dalam penelitian kuantitatif, kualitas instrumen penelitian berkenaan dengan validitas dan reliabilitas instrumen dan kualitas pengumpulan data berkenaan ketepatan cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data. Oleh karena itu instrumen yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, belum tentu dapat menghasilkan data yang valid dan reliabel, apabila instrumen tersebut tidak digunakan secara tepat dalam pengumpulan datanya. Instrumen dalam penelitian kuantitatif dapat berupa test, pedoman wawancara, pedoman observasi, dan kuesioner.

Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Oleh karena itu peneliti sebagai instrumen juga harus “divalidasi” seberapa jauh peneliti kualitatif siap melakukan penelitian yang selanjutnya terjun ke lapangan. Validasi terhadap peneliti sebagai instrumen meliputi validasi terhadap pemahaman metode penelitian kualitatif, penguasaan wawasan terhadap bidang yang diteliti, kesiapan peneliti untuk memasuki obyek penelitian, baik secara akademik maupun logistiknya. Yang benar-benar menguasai situasi sosial yang diteliti (obyek), maka merupakan keuntungan bagi peneliti, karena tidak memerlukan banyak sampel lagi, sehingga penelitian cepat selesai. Jadi yang menjadi kepedulian bagi peneliti kualitatif adalah “tuntas dan kepastian” perolehan informasi dengan keragaman variasi yang ada, bukan banyaknya sampel sumber data.[6]

Dari beberapa pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan informasi kuantitatif tentang variabel  yang sedang diteliti.

 

B.           Macam-Macam Instrument Penelitian

Instrumen penelitian dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu tes dan nontes. Tes memiliki sifat mengukur, sedangkan nontes memiliki sifat menghimpun. Tes terdiri diantara beberapa jenis, di antaranya tes tertulis, tes lisan, dan tes tindakan, sedangkan nontes terdiri dari angket, observasi, wawacara, skala sikap, daftar cek skala peilaian, studi dokumentasi, dan sebagainya.[7]

Dalam kegiatan penelitian untuk memperoleh data yang berasal dari lapangan, seorang peneliti biasanya menggunakan instrumen yang baik dan mampu mengambil informasi dari objek atau subjek yang diteliti. Disamping itu, mereka juga dapat menggunakan instrumen yang sudah ada yang telah dimodifikasi agar memenuhi persyaratan yang baik bagi suatu instrumen. Di bidang pendidikan dan tingkah laku, instrumen penelitian pada umumnya perlu mempunyai dua syarat penting, yaitu validasi dan reliabel.[8]

1.      Tes  

Tes adalah suatu teknik pengukuran yang di dalamnya terdapat berbagai pertanyaan, pernyataan, atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan atau dijawab oleh responden. Tes dapat dibedakan atas beberapa jenis,salah satunya  menurut Heaton, misalnya, membagi tes menjadi empat bagian, yaitu tes prestasi belajar (achievement test), tes penguasaan (proviency test), tes bakat (aptitude test), dan tes diagnostik (diagnostic test).[9]

Pembagian jenis tes menunjukkan banyaknya ragam tes yang dapat digunakan dalam penelitian. Jenis atau bentuk tes mana yang digunakan sangat bergantung dengan masalah dan tujuan penelitian. Setiap jenis atau bentuk tes tentu mempunyai tujuan dan fungsi masing-masing. Salah satu bentuk tes yang banyak digunakan dalam penelitian adalah tes objektif atau sering disebut tes dikotomi (dichotomously scored item) karena jawabanya antara benar atau salah dan skornya antara 1 atau 0. Disebut tes objektif karena penilaiannya objektif. Siapapun yang mengoreksi tes objektif hasilnya akan sama karena kunci jawabanyya sudah jelas dan pasti.

Tes dapat berupa serentetan pertanyaan, lembar kerja, atau sejenisnya yang dapat digunakan untuk mengukur pengetahuan, ketrampilan, bakat, dan kemampuan dari subjek penelitian. Lembar instrumen berupa tes ini berisi soal-soal tes yang terdiri atas butir-butir soal. Setiap butir-butir soal mewakili satu jenis variabel yang diukur.

Bentuk instrumen ini dapat dipergunakan salah satunya dalam mengevaluasi kemampuan hasil belajar siswa di sekolah dasar, tentu dengan memperhatikan aspek-aspek mendasar seperti kemampuan dalam pengetahuan, sikap serta kemampuan dalam pengetahuan, sikap serta ketrampilan yang dimiliki baik setelah menyelesaikan salah satu materi tertentu atau seluruh materi yang telah di sampaikan.[10]

2.      Angket (Questioner)

Angket adalah instrumen penelitian yang berisi serangkaian pertanyaan atau pernyataan untuk menjaring data atau informasi yang harus dijawab responden secara bebas sesuai dengan pendapatnya. Pertanyaan tersebut ada yang terbuka dan ada yang tertutup. Angket mempunyai kesamaan dengan wawancara, kecuali dalam implementasinya, dimana angket dilaksanakan secara tertulis, sedangkan wawancara dilaksanakan secara lisan.

Questioner ada dua macam:[11] questioner berstruktur atau bentuk tertutup. Questioner berstuktur berisi pertanyaan-pertanyaan yang disertai dengan pilihan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pelaksanaan dan pemberian skor quesioner berstruktur bersifat langsung dan hasilnya pun langsung mengarah kepada analisis. Quesioner jenis ini memiliki kelemahan, yaitu memaksa subjek memilih salah satu dari pilihan jawaban yang telah ditetapkan terlebih dahulu bagi pesertanya, pertanyaan yang mungkin sebenarnya ia merasa tidak mempunyai jawaban yang jelas, atau memilih jawaban yang tidak mencerminkan sikap mereka.

Dalam angket tertutup, sebaiknya disediakan ruang khusus untuk menuliskan alternatif jawaban yang belum diketahui sebelumnya. Untuk jenis informasi tertentu , angket tertutup ternyata sangat memuaskan. Angket tertutup mudah diisi, memerlukan waktu yang sangat singkat, memusatkan responden pada pokok persoalan, relatif objektif, dan sangat mudah dianalisis.[12]

Questioner tak-berstruktur atau bentuk terbuka. Questioner tak-berstruktur tidak menyediakan jawaban yang diharapkan, jadi angket yang menghendaki jawaban bebas atau jawaban dengankalimat responden sendiri. Questioner tak-berstruktur memiliki kelebihan yakni memberi responden kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan sifat mereka. kelemahan quesioner tak-berstruktur adalah bahwa informasi yang dihasilkan sulit untuk diproses dan dianalisis. Dalam menjawab questioner tak-berstruktur, subjek mungkin akan melewatkan hal-hal yang penting atau menekankan hal-hal yang tidak menarik perhatian peneliti. Karena alasan inilah, maka kebanyakan peneliti menghindari penggunaan questioner tak-berstruktur dan lebih suka menggunakan questioner berstruktur.[13]

3.      Observasi (Pengamatan)

Observasi dalam sebuah penelitian diartikan sebagai pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan melibatkan seluruh indera untuk mendapatkan data. Jadi observasi merupakan pengamatan langsung dengan menggunakan penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, atau kalau perlu dengan pengecapan. Hal ini dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki.[14]

4.      Interview

Sering kali disebut wawancara atau kuisioner lisan yaitu dialog yang dilakukan pewawancara untuk memperoleh informasi dari sumber informasi. Interview biasa digunakan untuk menilai keadaan seseorang seperti mencari latar belakan murid, orang tua, pendidikan dan sikap seseorang.

5.      Dokumentasi

Studi dokumentasi adalah teknik untuk mempelajari dan menganalisis bahan-bahan tertulis kantor atau sekolah, seperti silabus, program tahunan, program bulanan, program mingguan, RPP, kisi-kisi, buku rapor, daftar nilai, dan lain-lain.

Dokumen adalah merupakan catatan peristiwa yang telah lalu. Dokumen dapat berbentuk tulisan, gambar, atau karya menumental dari seseorang lainnya. Dokumen yang berbentuk tulisan, misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), cerita, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa, film, video, CD, DVD, cassete, dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, karya lukis, patung naskah, tulisan, prasasti dan lain sebagainya.
Secara interpretatif dapat diartikan bahwa dekumen merupakan rekaman kejadian masa lalu yang ditulis atau dicetak, dapat merupakan catatan anekdotal, surat, buku harian dan dokumen-dokumen.

 

C.          Langkah-Langkah Penyusunan Instrumen

Dalam mengukur suatu variabel penelitian, seorang peneliti dapat menyusun sendiri instrumen penelitian. Namun, dalam hal-hal tertentu peneliti dapat menggunakan instrumen yang telah ada yaitu berupa instrumen  baku atau instrumen yang telah digunakan dalam penelitian sebelumnya. Instrumen yang telah ada itu dapat pula merupakan instrumen yang disusun berdasarkan suasana sosial budaya asing. Untuk itu, peneliti tidak cukup hanya menerjemahkan setiap butir instrumen, melainkan harus menyadurnya dengan seksama. Pemakaian instrumen yang telah ada tersebut tidak luput dari kriteria yang dikenakan pada instrumen yang disusun sendiri. Dengan kata lain penyaduran instrumen harus pula diikuti oleh pengujian mutu instrumen sesuai dengan kriteria yang dimaksud.

Ada beberapa langkah umum yang bisa ditempuh dalam menyusun instrumen penelitian. Langkah-langkah tersebut adalah:

1.      Analisis variabel penelitian, yakni mengkaji variabel menjadi sub penelitian sejelas-jelasnya, sehingga indikator tersebut bisa diukur dan menghasilkan data yang diinginkan peneliti. Dalam membuat indikator variabel, peneliti dapat menggunakan teori atau konsep-konsep yang ada dalam pengetahuan ilmiah yang berkenaan dengan variabel tersebut, atau menggunakan fakta empiris berdasarkan pengamatan lapangan.

2.      Menetapkan jenis instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel, subvariabel atau indikator-indikatornya. Satu variabel mungkin bisa diukur oleh atau jenis instrumen, bisa pula lebih dari satu instrumen.

3.      Setelah ditetapkan jenis instrumennya, peneliti menyusun kisi-kisi atau layout Kisi-kisi ini berisi lingkup materi pertanyaan, abilitas yang diukur, jenis pertanyaan, banyak pertanyaan, waktu yang dibutuhkan. Materi atau lingkup materi pertanyaan didasarkan pada indikator varibel. Artinya, setiap indikator akan menghasilkann beberapa luas lingkup isi pertanyaan, serta abilitas yang diukurnya. Abilitas dimaksudkan adalah kemampuan yang diharapkan dari subjek yang diteliti. Misalnya kalau diukur prestasi belajar, maka abilitas prestasi tersebut dilihat dari kemampuan subjek dalam hal pengenalan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, evaluasi. Atau bila diukur sikap seseorang, maka lingkup abilitas sikap kita bedakan aspek kognisi, afeksi, dan konasinya.

4.      Berdasarkan kisi-kisi tersebut lalu peneliti menyusun item dan pertanyaan sesuai dengan jenis instrumen dan jumlah yang telah ditetapkan dalam kisi-kisi. Jumlah pertanyaan bisa dibuat lebih dari yang ditetapkan sebagai item cadangan. Setiap item yang dibuat peneliti harus sudah punya gambaran jawaban yang diharapkan. Artinya, prakiraan jawaban yang betul/diinginkan harus dibuat peneliti.

5.      Instrumen yang sudah dibuat sebaiknya diuji coba digunakan untuk revisi instrumen, misalnya membuang instumen yang tidak perlu, menggantinya dengan item yang baru, atau perbaikan isi dan redaksi atau bahasannya.[15]

Salah satu langkah penting dalam penyusunan instrumen sendiri adalah melakukan uji coba perangkat instrumen. Langkah ini sering diabaikan oleh peneliti karena menjadi beban berat dan dianggap kurang ada manfaatnya. Padahal, langkah uji coba ini sangat besar manfaatnya dan mempunyai tujuan tertentu, yaitu untuk mengetahui: a) apakah instrumen itu dapat di administrasikan dengan mudah, hal ini dapat dilakukan dengan observasi, b) apakah setiap butir itu dapat dibaca dan dipahami oleh responden, c) ketepatan instrumen, baik butir instrumen maupun perangkat instrumen secara keseluruhan, dan d) ketetapan (reliabilitas) instrumen.[16]

Iskandar[17] dalam bukunya mengemukakan ada enam langkah dalam penyusunan instrumen penelitian, yaitu :

1.      Mengidentifikasikan variabel-variabel yang diteliti.

2.      Menjabarkan variabel menjadi dimensi-dimensi

3.      Mencari indikator dari setiap dimensi.

4.      Mendeskripsikan kisi-kisi instrumen

5.      Merumuskan item-item pertanyaan atau pernyataan instrumen

6.      Petunjuk pengisian instrumen.

Kemudian berbeda dengan itu, menurut Margono ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun instrumen penelitian, yaitu sebagai berikut.

1.      Masalah dan variabel yang diteliti termasuk indikator variable, harus jelas spesifik sehingga dapat dengan mudah menetapkan jenis instrumen yang akan digunakan.

2.      Sumber data/informasi baik jumlah maupun keragamannya harus diketahui terlebih dahulu, sebagai bahan atau dasar dalam menentukan isi, bahasa, sistematika item dalam instrument penelitian.

3.      Keterampilan dalam instrument itu sendiri sebagai alat pengumpulan data baik dari kejagaan, kesahihan, maupun objektivitasnya.

4.      Jenis data yang diharapkan dari penggunaan instrument harus jelas, sehingga peneliti dapat memperkirakan cara analisis data guna pemecahan masalah penelitian.

5.      Mudah dan praktis digunakan akan tetapi dapat menghasilkan data yang diperlukan.[18]

 

D.          Teknik Pengujian Validitas Dan Reliabiltasnya

Adapun syarat-syarat pokok dalam suatu instrumen penelitian adalah validitas dan reliabilitas.

1.      Validitas (ketepatan/kesahihan)

Validitas adalah suatu derajat ketepatan instrumen (alat ukur), apakah instrumen yang akan digunakan betul-betul tepat untuk mengukur apa yang akan diukur. Dalam literatur modern tentang penelitian dan evaluai, banyak dikemukakan jenis-jenis validitas, antara lain:

a.       Validitas permukaan, validitas ini menggunakan kriteria yang sangat sederhana, karena hanya melihat dari sisi muka atau tampang dari instrumen itu sendiri. Artinya, jika suatu tes secara sepintas telah dianggap baik, maka tes tersebut sudah dapat dikatakan memenuhi syarat validitaspermukaan, dan tidak perlu lagi adanya judgement yang mendalam.

b.      Validitas isi, sering digunakan dalam pengukuran hasil belajar. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui sejauh mana peserta didik menguasai materi pelajaran yang telah disampaikan.

c.       Validitas empiris, biasanya menggunakan tehnik statistik, yaitu analisis korelasi. Hal ini disebabkan validitas empiris mencari hubungan antara skor tes dan suatu kriteria tertentu yang merupakan suatu tolok ukur diluar tes yang bersangkutan.

d.      Validitas konstruk, konstruk adalah konsep yang dapat diobservasi dan dapat diukur. Validitas konstruk sering juga disebut validitas logis, validitas konstruk banyak dikenal dan digunakan dalam tes-tes psikologis untuk mengukur gejala perilaku yang abstrak, seperti kesetiakawanan, kematangan emosi, sikap, emosi, minat, dan sebagainya.

e.       Validitas faktor, dalam penelitian sering digunakan skala pengukuran tentang suatu variabel yang terdiri atas beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut diperoleh berdasarkan indikator dari variabel yang diukur sesuai apa yang terungkap dalam konstruksi teoretisnya. Meskipun variabel terdiri dari beberapa faktor, prinsip homogenitas untuk keseluruhan faktor harus tetap dipertahankan, sehingga tidak terjadi tumpang tindih antara satu faktor dan faktor lain.

2.      Reliabilitas (ketetapan/keajekan)

Suatu instrumen dapat dikatakan reliabel jika selalu memberikan hasil yang sama jika diujikan pada kelompok yang sama, pada waktu atau kesempatan yang berbeda. Menurut perhitungan product-moment dari Pearson, ada tiga macam reliabilitas, yaitu:

a.       Koefisien stabilitas adalah jenis reliabilitas yang menggunakan tehnik test and retest, yaitu memberikan tes kepada sekelompok individu, kemudian diadakan pengulangan tes pada kelompok yang sama dengan waktu yang berbeda.

b.      Koefisien ekuivalen adalah jika mengkorelasikan dua buah tes yang paralel  pada kelompok dan waktu yang sama.

c.       Koefisien konsistensi internal adalah reliabilitas yang didapat dengan jalan menkorelasikan dua buah tes dari kelompok yang sama, tetapi diambil dari buir-butir yang bernomor genap untuk tes yang pertama dan butir-butir bernomor ganjil untuk tes yang kedua.[19]

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

A.          Kesimpulan

Instrumen penelitian adalah semua alat yang digunakan untuk mengumpulkan, memeriksa, menyelidiki suatu masalah. Instrumen penelitian dapat diartikan pula sebagai alat untuk mengumpulkan, mengolah, menganalisa dan menyajikan data-data secara sistematis serta objektif dengan tujuan memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis. Jadi semua alat yang bisa mendukung suatu penelitian bisa disebut instrumen penelitian.

Instrumen penelitian dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu tes dan nontes. Tes memiliki sufat mengukur, sedangkan nontes memiliki sifat menghimpun. Tes terdiri diantara beberapa jenis, di antaranya tes tertulis, tes lisan, dan tes tindakan, sedangkan nontes terdiri dari angket , observasi, wawacara, skala sikap, daftar cek skala peilaian, studi dokumentasi, dan sebagainya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun instrumen penelitian, yaitu sebagai berikut.

1.      Masalah dan variabel yang diteliti termasuk indikator variable, harus jelas spesifik sehingga dapat dengan mudah menetapkan jenis instrumen yang akan digunakan.

2.      Sumber data/informasi baik jumlah maupun keragamannya harus diketahui terlebih dahulu, sebagai bahan atau dasar dalam menentukan isi, bahasa, sistematika item dalam instrument penelitian.

3.      Keterampilan dalam instrument itu sendiri sebagai alat pengumpulan data baik dari kejagaan, kesahihan, maupun objektivitasnya.

4.      Jenis data yang diharapkan dari penggunaan instrument harus jelas, sehingga peneliti dapat memperkirakan cara analisis data guna pemecahan masalah penelitian.

5.      Mudah dan praktis digunakan akan tetapi dapat menghasilkan data yang diperlukan.

Adapun syarat-syarat pokok yang harus diperhatikan dalam suatu instrumen penelitian adalah validitas dan reliabilitas.

 

B.           Saran

Demikian makalah yang saya buat, saya menyadari masih terdapat banyak kesalahan dalam makalah kami. Kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan demi perbaikan makalah saya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi semua kalangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Arif Furchan, Pengantar Penelitian dalam Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983).

Cholid Narbuko, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010).

Ibnu Hadjar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kwantitatif  dalam Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996).

Iskandar, Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial (Kuantitatif  dan Kualitatif), (Jakarta: Gaung Persada Press, 2008).

Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010).

Nursiyam Afifah, Macam-macam Instrumen Penelitian, (http://membumikan-pendidikan.blogspot. com/ 2014/09/ macam-macam instrument penelitian.html), diakses pada: selasa, 17 Maret 2015. Pkl: 09.56

Nurul Zuriah, Metodologi Penelitian Sosial Dan Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007).

Sanapiah Faisal, Metodologi Penelitian dan Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1982).

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfa Beta, 2012).

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2013).

Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000).

Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Praktiknya, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011).

Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2008).

Zainal Arifin, Penelitian Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011).

Zainal Arifin, Penelitian Pendidikan: Metode dan Paradigna Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012).

 



[1] Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hal 134.

[2] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfa Beta, 2012), hal 224.

[3] Ibnu Hadjar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kwantitatif  dalam Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996), hal 160.

[4] Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2008), hal 52.

[5] Zainal Arifin, Penelitian Pendidikan: Metode dan Paradigna Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012),  hal 225.

[6] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2013), hal 305.

[7] Ibbid, hal 226.

[8] Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Praktiknya, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011), hal 121.

[9] Op.cit, Zainal Arifin, hal 226.

[10] Nursiyam Afifah, Macam-macam Instrumen Penelitian, (http://membumikan-pendidikan.blogspot. com/ 2014/09/macam-macam-instrumen-penelitian.html), diakses pada: selasa, 17 Maret 2015. Pkl: 09.56

[11] Arif Furchan, Pengantar Penelitian dalam Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), hal 249.

[12] Sanapiah Faisal, Metodologi Penelitian dan Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), hal 179.

[13] Op.cit, hal 250.

[14] Cholid Narbuko, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hal 70.

[15] Nurul Zuriah, Metodologi Penelitian Sosial Dan Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007) hal 169.

[16] Zainal Arifin, Penelitian Pendidika, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), hal 244-245.

[17] Iskandar, Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial (Kuantitatif  dan Kualitatif), (Jakarta: Gaung Persada Press, 2008), hal 79.

[18] Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hal 155-156.

[19] Op.cit, Zainal Arifin, hal 245-248.